Apa Benar, Gairah Seks Yang Menurun Bisa Sebabkan Depresi ?

Apa Benar, Gairah Seks Yang Menurun Bisa Sebabkan Depresi ?

Apa benar, gairah seks yang menurun bisa sebabkan depresi ? – Bagi pria dan wanita, hubungan seksual adalah hal yang sangat penting untuk mempertahankan kemesraan dan keharmonisan dalam hubungan rumah tangga. Selain itu, apa-apa yang bersangkutan dengan aktivitas seksual dapat mempengaruhi mood dan kondisi fisik setiap orang.

Apa Benar, Gairah Seks Yang Menurun Bisa Sebabkan Depresi ?

Mungkin Anda tidak akan menyangka, tingkat gairah seksual dapat mempengaruhi kesehatan psikologis dan emosi manusia. Penelitian kali ini telah menunjukkan bahwa depresi pada pria dapat dikaitkan dengan tingkat testosteron yang rendah. Hormon ini adalah hormon yang mempengaruhi nafsu seks pria.

Baca juga: Cara efektif meningkatkan gairah seksual pria

Penelitian ini telah melibatkan 200 orang pria dengan rata-rata usia 48 tahun. Hasil penelitian itu, hampir setengah dari pria memiliki kadar testosteron rendah dan telah secara resmi didiagnosis dengan depresi baik oleh dokter yang ternyata menunjukkan tanda-tanda depresi. Sebanyak 25 persen dari mereka telah menjalani perawatan dan minum obat.

Tingkat testosteron yang rendah mempengaruhi depresi pria karena hormon ini berperan dalam produksi sperma, nafsu seks, bulu wajah, jaringan otot, dan struktur tubuh. Jadi, jika tingkat hormon ini tidak seimbang, ia akan berpotensi menciptakan masalah mental. Tingkat produksi testosteron ini memuncak di zaman remaja dan perlahan-lahan akan terus menurun setelah usia 40 tahun.

Data dari penelitian menemukan bahwa pria yang depresi atau stres karena tingkat testosteron yang rendah juga dapat berisiko obesitas, masalah ereksi (penis tidak keras), mudah loyo, dan juga gangguan tidur. Tingkat stres peserta berfluktuasi antara 62 sampai 65 persen berdasarkan umur kelompok, umur yang lebih tua ternyata mengalami depresi yang lebih parah.

Jadi apa benar, gairah seks yang menurun bisa sebabkan depresi ? para peneliti mengakui bahwa harus lebih banyak penelitian yang dilakukan mengenai masalah ini. Mereka berpendapat, korelasi antara depresi dan testosteron yang rendah mungkin masih bisa dibantu dengan terapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *